
Wilayah pesisir di Propinsi NAD mempunyai panjang garis pantai 1.660 km, dengan luas wilayah perairan laut seluas 295.370 km² terdiri dari laut wilayah (perairan teritorial dan perairan kepulauan) 56.563 km² dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 238.807 km². Akibat tsunami pada 26 Desember 2004, dari 1660 km panjang garis pantai, 800 km rusak terkena gelombang tsunami.
Serapan tenaga kerja menyerap 58.309 Rumah Tangga Perikanan (RTP) atau menghidupkan sekitar 291.545 jiwa. Daya serap tenaga kerja sector kelautan perikanan menunjukkan tingkat daya serap yang tinggi.
Perikanan TangkapBerdasar data dari dinas perikanan Prop. NAD, potensi perairan teritorial dan perairan kepulauan sebesar 220.090 ton dan ZEE sebesar 203.320 ton atau total sebesar + 423.410 ton. Potensi lestari atau maksimum sustainable yield (MSY) laut wilayah sebesar 110.045 ton dan ZEE dengan Total Allowable Catch (TAC) sebesar 80 persen atau + 162.656 ton. Berarti total potensi lestari seluruhnya 272.707 ton. Tingkat pemanfaatan baru mencapai 37,60 % atau 102.555 ton (thn 2004) sehingga terdapat peluang pengembangan sebesar 62,40 %. Akibat tsunami pada bulan Desember 2004 yang menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir, laut dan pulau serta kerusakan pada fasilitas perikanan dan banyaknya nelayan yang hilang, tahun 2005 tingkat pemanfaatan potensi lestari menurun menjadi 80.230,2 ton atau hanya 29,4%.
Sumberdaya ikan di perairan laut berdasarkan pengelompokan biota dibagi dalam 4 (empat) kelompok besar yaitu :
Jenis-jenis ikan pelagis besar:
- Tongkol
- Cakalang
- Tuna
- Cucut
Jenis-jenis ikan pelagis kecil:
- Kembung
- Selar
- Teri
- Layar
- Tembang
- Lemuru
Jenis-jenis ikan demersal:
- Tenggiri
- Kerapu
- Kakap
- Kuwe
- Ekor kuning
Sumberdaya Non Ikan:
- Udang Windu
- Udang Putih
- Udang Barong / Lobster
- Cumi-cumi
Perikanan Budidaya
Kegiatan budidaya ikan yang berpotensi di Prov. NAD dapat dibedakan atas 3 (tiga) jenis kegiatan, yaitu perikanan budidaya air tawar, payau dan laut.
Lokasi kegiatan budidaya air tawar dilaksanakan pada daerah-daerah dimana sumber air tawar tersedia dengan baik seperti halnya di Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Bener Meriah dan Nagan Raya yang diusahakan pada kolam-kolam, karamba dan persawahan dengan potensi luasan areal budidaya diperkirakan 10.158 Ha. Budidaya air payau (tambak) memiliki potensi luas tambak sebelum tsunami + 44.883 ha (2003) dengan total produksi 22.955,97 ton dan jumlah petani tambak sebanyak 25.837 orang, berarti produktivitas rata-rata per ha/tahun baru mencapai 511,46 kg/ha/tahun dan produktivitas pembudidaya sebesar 888,49 kg/tahun, sementara luas areal tambak yang mengalami kerusakan diperkirakan seluas 20.000 Ha. Disamping itu masih tersedia dukungan lahan untuk pengembangan (ekstensifikasi) tambak seluas 40.500 Ha di seluruh Aceh (data di ambil dari RPJM Propinsi NAD 2004 – 2009). Area pertambakan didukung oleh luasnya sebaran hutan bakau (mangrove) yang mempunyai fungsi pencegahan abrasi pantai, melindungi habitat biota laut dan pencegahan pencemaran serta memiliki fungsi produksi akuatik.
Potensi perikanan lainnya adalah budidaya laut untuk jenis komoditi rumput laut, kerapu, kakap, dan lobster dengan potensi sebaran luas +12.014 ha tersebar mulai di Sabang, Aceh besar, Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeulue dan Pulau Banyak (Aceh Singkil). Pengembangan budidaya laut ini didukung juga oleh sebaran luas terumbu karang di NAD seluas + 274.841 ha. Tersebar mulai dari Sabang, Aceh Besar dan Pantai barat Selatan Aceh.
Armada Kapal Perikanan
Dalam upaya meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk termasuk perbaikan gizi, Pemerintah Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, telah menggalakkan pembangunan motorisasi secara besar-besaran. Jumlah perahu perikanan/kapal perikanan pada 2001 tercatat sebanyak 7.715 unit, telah meningkat jumlahnya menjadi 16.265 unit pada tahun 2005.
Usaha penangkapan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebar disepanjang pantai Utara Timur dan Barat Selatan. Pada akhir tahun 2005 usaha penangkapan ikan ini masih didominasi oleh armada penangkapan tradisional, dengan jumlah armada mencapai 6.950 unit Perahu Tanpa Motor, selanjutnya armada Motor tempel mencapai 3.166 unit dan Kapal Motor (5 – 10 GT) berjumlah 1.539 unit, kapal motor (10 – 20 GT) hanya 560 unit dan kapal motor (20 – 30 GT) sebanyak 322 unit, kapal motor (30 – 50 GT) 118 unit. Jumlah armada kapal perikanan di perairan umum sampai akhir tahun 2005 mencapai 1.686 unit.
Sarana dan Prasarana Perikanan
Untuk mendukung keberhasilan pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya Kelautan dan Perikanan, telah dibangun beberapa fasilitas prasarana dan sarana penunjang dalam rangka mendorong investasi sektor Kelautan dan Perikanan seperti PPP, PPI, TPI, Pabrik es, Cold storage, Galangan kapal/Docking, LPPMHP, BBI/BBU, dan BBIP.
Fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di sektor perikanan adalah: PPP sebanyak 1 buah, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) sebanyak 30 unit, TPI sebanyak 13 unit, pabrik es sebanyak 41 unit, cold storage dengan kapasitas 30 ton sebanyak 6 unit, LPPMHP sebanyak 1 unit, Balai Benih Ikan/Balai Benih Udang sebanyak 14 unit, dan BBIP sebanyak 1 unit.



